Jakarta – Harga kedelai di wilayah DKI Jakarta mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dirasakan baik oleh pengrajin tahu-tempe maupun pedagang di pasar tradisional.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, harga kedelai di tingkat pengrajin kini berada di kisaran Rp10.500–Rp11.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp8.000–Rp8.600 per kilogram.
Sementara itu, di tingkat pedagang pasar tradisional, harga kedelai mencapai Rp15.000–Rp20.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp13.000–Rp18.000 per kilogram.
Dipicu Faktor Global
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya di Amerika Serikat sebagai eksportir utama kedelai dunia.
“Kenaikan harga dikarenakan adanya dinamika global terkait gejolak di negara eksportir kedelai terbesar, Amerika Serikat, serta nilai tukar rupiah yang menurun,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga mulai terasa sejak Ramadan pada Februari 2026 dan terus berfluktuasi hingga saat ini.
Ketergantungan Impor
Hasudungan menyebutkan bahwa sebagian besar kebutuhan kedelai di Jakarta masih bergantung pada impor. Hanya sebagian kecil yang dipasok dari daerah produsen dalam negeri seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Kedelai sendiri merupakan bahan utama produksi tahu dan tempe yang banyak diolah oleh pengrajin yang tergabung dalam Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta serta Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).
Imbauan ke Masyarakat
Untuk mengurangi dampak kenaikan harga, pemerintah mengimbau masyarakat menyesuaikan pola konsumsi dan mempertimbangkan alternatif bahan pangan lain dengan nilai gizi seimbang dan harga lebih terjangkau.
Selain itu, warga juga didorong memanfaatkan urban farming sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga secara mandiri.
“Kami mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang ada di rumah guna meningkatkan ketahanan pangan keluarga,” pungkas Hasudungan.
