Jakarta – Komisi X DPR RI mendorong penguatan anggaran kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada 2027. Anggaran tersebut diharapkan benar-benar berdampak terhadap peningkatan kualitas generasi muda dan prestasi olahraga nasional.
Anggota Komisi X DPR RI Adelia Kansya Adies mengatakan dukungan terhadap kenaikan anggaran harus dibarengi dengan program yang mampu dirasakan langsung oleh pemuda di berbagai daerah.
“Kami tentu mendukung penguatan anggaran kepemudaan. Yang penting, anggaran ini harus memberikan dampak nyata bagi pemuda di seluruh Indonesia, bukan hanya terpusat pada kegiatan tertentu atau terfokus pada kegiatan seremonial,” kata Adelia dikutip dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Adelia dalam rapat kerja Komisi X DPR RI bersama Kemenpora pada Senin (31/8/2026). Dalam rapat itu, pembahasan mencakup usulan anggaran kepemudaan untuk 2027 yang mengalami peningkatan dibandingkan pagu anggaran 2026.
Menurut Adelia, peningkatan anggaran tidak boleh hanya dilihat dari besarnya nominal. Kemenpora juga perlu memastikan pengelolaannya memenuhi prinsip akuntabilitas, transparansi, pemerataan, serta memberikan manfaat yang konkret.
“Harapan kami, RKA Kemenpora 2027 benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, pemuda dan atlet. Ukuran keberhasilan anggaran bukan hanya pada besarnya alokasi, tetapi pada seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Momentum 100 Tahun Sumpah Pemuda
Politikus yang merupakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur I itu juga meminta Kemenpora mulai menjadikan peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 sebagai bagian dari perencanaan program kepemudaan jangka panjang.
Menurutnya, satu abad Sumpah Pemuda merupakan momentum strategis untuk membangun kebijakan yang mampu memperkuat kapasitas generasi muda. Karena itu, persiapannya tidak seharusnya hanya berorientasi pada rangkaian acara peringatan.
“Karena itu, berbagai program yang disiapkan Kemenpora menjelang 2028 harus memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan rangkaian acara peringatan. Jangan sampai momentum 100 Tahun Sumpah Pemuda hanya menjadi kegiatan seremonial. Harus ada legacy yang dirasakan oleh generasi muda,” ujarnya.
Adelia menilai program menuju satu abad Sumpah Pemuda harus meninggalkan hasil yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Program tersebut, kata dia, harus mampu memberikan ruang bagi pemuda untuk berkembang sekaligus memperkuat kontribusi mereka terhadap pembangunan nasional.
Program Pemuda Harus Merata
Selain soal efektivitas anggaran, Adelia menyoroti pentingnya pemerataan program kepemudaan. Dia meminta agar program Kemenpora tidak hanya terkonsentrasi di wilayah pusat atau daerah yang memiliki fasilitas memadai.
Pemuda yang tinggal di wilayah kepulauan, daerah dengan keterbatasan sarana, hingga kawasan yang selama ini belum optimal memperoleh akses program pemerintah juga harus mendapatkan perhatian.
Untuk itu, menurut Adelia, Kemenpora perlu memiliki pemetaan program yang terukur. Evaluasi tidak hanya berdasarkan jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi juga harus melihat jumlah penerima manfaat, lokasi program, kualitas pelaksanaan, hingga hasil yang diperoleh.
“Harus jelas berapa penerima manfaatnya, tersebar di daerah mana saja, bagaimana kualitas programnya, dan apa hasil yang mereka dapatkan,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Adelia berharap peningkatan anggaran kepemudaan 2027 dapat benar-benar menjadi investasi bagi generasi muda. Pemerintah juga dinilai perlu memastikan setiap program memiliki target yang jelas dan mampu memberikan dampak yang berkelanjutan.
