Jakarta – Suara perahu motor memecah keheningan sungai yang masih meluap pascabanjir bandang di Aceh Tamiang. Di atas perahu kecil, personel TNI bersama relawan duduk berdesakan, menjaga keseimbangan di antara tumpukan karung dan kardus bantuan yang memenuhi dek.
Inilah potret perjuangan penyaluran bantuan menuju Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Kampung tersebut masih terisolasi akibat akses darat yang terputus, sehingga jalur sungai menjadi satu-satunya pilihan paling memungkinkan untuk mengirimkan logistik bagi warga terdampak.
Perjalanan menyusuri sungai itu bukan tanpa bahaya. Waktu tempuh memakan waktu berjam-jam, sementara perairan yang dilewati dikenal sebagai habitat buaya. Awak perahu beberapa kali menurunkan kecepatan mesin ketika melihat bayangan reptil besar di tepi sungai. Meski demikian, rasa waswas tak mengalahkan tekad mereka untuk memastikan bantuan tiba di tangan warga yang bertahan di pengungsian.
Sesampainya di Desa Sekumur, rintangan belum berakhir. Personel TNI harus mengangkat dan memikul bantuan melewati tumpukan kayu besar yang hanyut terbawa banjir bandang. Material kayu tersebut menutup jalur menuju tenda-tenda pengungsian, memaksa petugas berjalan ekstra hati-hati agar logistik tetap aman dan tidak basah.
Harapan dari Tenda Pengungsian
Di area pengungsian, suasana berubah menjadi penuh haru. Warga menyambut kedatangan bantuan dengan senyum dan antre secara tertib. Anak-anak mengikuti orang tua mereka, sementara para lansia duduk menunggu giliran, seakan beban bencana sedikit terangkat saat bantuan tiba.
Perwakilan warga Desa Sekumur menyampaikan rasa terima kasih sekaligus harapan besar kepada pemerintah.
“Kami atas nama masyarakat Desa Sukumur mengucapkan ribuan terima kasih atas segala bantuannya dari Bapak pemerintah yang telah sudi memberi bantuan seperti sembako. Namun yang sangat kami butuhkan adalah tempat untuk beristirahat di dataran lebih tinggi dan bantuan perumahan, karena rumah kami sudah tidak layak, bahkan banyak yang tinggal lapak,” ucap dia penuh harapan, ditulis, Sabtu (20/12/2025).
Meski kelelahan, para petugas dan relawan terus melanjutkan tugas dari satu titik ke titik lainnya. Sungai berlumpur, kayu hanyut, dan medan sulit menjadi saksi kerja kemanusiaan yang tak mengenal lelah, demi memastikan setiap keluarga terdampak merasakan kehadiran negara di tengah bencana.
Warga juga berharap proses pemulihan akses segera dilakukan. Pemerintah bersama TNI dan relawan berkomitmen melanjutkan distribusi bantuan, membuka kembali jalur transportasi, serta memperbaiki infrastruktur agar Desa Sekumur dapat segera bangkit dan warganya kembali hidup dengan aman.




